Rabu, 30 Desember 2015

Video Pembelajaran Matematika



Video pembelajaran matematika ini merupakan salah satu tugas kelompok mata kuliah Multimedi Pendidikan Matematika. Video pembelajaran ini dikemas dalam bentuk penyampaian berita tentang kasusunpencurian disebuah restoran. Pemeran dalam video ini di antaranya adalah Sefiana sebagai ahli matematika, Rindy dan Devi sebagai Pembawa acara, Annisa sebagai pencuri, dan Kania sebagai pengisi suara. 


Selasa, 22 Desember 2015

Penerapan Pendekatan Matematika Realistik untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa pada Topik Teorema Pythagoras

Oleh: Rindy Eka Arismandani

A.      Pendekatan Matematika Realistik
Pendekatan matematika realistik atau dikenal dengan Realistic Mathematics Education (RME) merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang telah berhasil di Belanda. Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Hans Freudenthal sekitar tahun 1970 di Institute Ontwikkeling Wiskunde Onderwijs (IOWO) yang sekarang lebih dikenal dengan Institut Freudenthal. RME berawal dari proyek Wiskobas yang diprakarsai oleh Edu Wijdeveld dan Fred Goffree pada tahun 1968.
Pendekatan pembelajaran matematika realistik menggunakan realitas dan lingkungan yang dipahami oleh siswa sebagai titik awal proses pembelajaran untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Selain itu, berdasarkan dua pandangan penting Freudental tentang RME di atas, berarti dalam pendekatan pembelajaran matematika realistik ini siswa tidak boleh dipandang sebagai penerima pasif matematika yang sudah jadi. Siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri konsep-konsep yang ada dalam matematika.
Pendapat mengenai karakteristik pendekatan matematika realistik pertama kali dikemukakan oleh Treffers. Menurut Treffers (dalam van den Heuvel-Panhuizen, 2002) karakteristik dari pendekatan pembelajaran matematika realistik terdiri dari: penggunaan konteks, penggunaan model, pemanfaatan hasil konstruksi siswa, interaktivitas, dan keterkaitan. Namun kemudian dirumuskan kembali oleh Marja van den Heuvel-Panhuizen dan Drijvers (2013). Menurut van den Heuvel-Panhuizen dan Drijvers (2013) ada 6 karakteristik dari pendekatan matematika realistik, yaitu:
a.    Prinsip aktivitas
Maksud dari prinsip aktivitas di sini adalah bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus diperlakukan sebagai peserta yang aktif. Hal ini juga menekankan bahwa belajar matematika yang terbaik adalah belajar dengan melakukan sendiri (learning by doing), karena dengan demikian pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa. Prinsip ini sesuai dengan pendapat Freudenthal bahwa mathematics as a  human activity.
b.    Prinsip realitas
Prinsip realitas yang diakui dalam RME ada dua, yaitu: pertama, realitas itu penting terkait dengan tujuan pembelajaran matematika, yaitu siswa mampu menerapkan matematika dalam memecahkan masalah dunia nyata. Kedua, prinsip realitas berarti bahwa pembelajaran matematika harus dimulai dengan permasalahan yang bermakna bagi siswa, yang dapat dibayangkan oleh siswa. Dalam RME pembelajaran dimulai dengan permasalahan yang kaya akan konteks yang dapat mengantarkan siswa dari pemahaman informal ke pemahaman formal.
c.    Prinsip tingkatan
Dalam proses pembelajaran matematika siswa akan melewati berbagai tingkatan pemahaman, mulai dari pemahaman matematika informal atau konkret menuju pemahan matematika formal. Untuk menjembatani siswa dari pemahaman matematika informal atau konkret menuju ke pemahaman matematika formal dapat digunakan model. Oleh karena itu, model harus dapat berubah dari model dari situasi tertentu ke model untuk semua situasi yang sama.
d.   Prinsip keterkaitan
Prinsip keterkaitan berarti bahwa konsep-konsep yang dalam matematika seperti bilangan, geometri, dan sebagainya tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki keterkaitan satu sama lain. Karena banyak permasalahan dalam matematika yang untuk menyelesaikannya tidak hanya menggunakan satu konsep, tetapi membutuhkan konsep lainnya.
e.    Prinsip interaktivitas
Prinsip interaktivitas dalam RME ini berarti bahwa proses pembelajaran matematika tidak hanya kegiatan individu tetapi juga kegiatan sosial. oleh karena itu, dalam RME proses pembelajaran biasanya dilakukan  dengan diskusi kelompok dan kegiatan kelompok yang memungkinkan siswa untuk berbagi strategi dan penemuan mereka dengan orang lain. Dengan cara ini, siswa bisa mendapatkan ide-ide untuk meningkatkan strategi mereka. Selain itu, dengan adanya interaksi juga memungkinkan siswa untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi.
f.     Prinsip bimbingan
Prinsip bimbingan atau guidance principle sejalan dengan pendapat Freudenthal yaitu: guided reinvention. Ini berarti bahwa dalam pendekatan matematika realistik guru harus memiliki peran yang pro-aktif dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat membimbing siswa untuk meningkatkan pemahamannya.

B.       Kemampuan Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. Menurut Murizal dkk. (2012) kemampuan pemahaman konsep memiliki peranan yang sangat penting dalam tujuan pembelajaran matematika. Hal tersebut berarti bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa tidak hanya hafalan semata, tetapi siswa harus benar-benar memahami dan mengerti konsep yang diajarkan. Oleh karena itu, setiap siswa harus memiliki kemampuan pemahaman konsep yang baik agar dapat mempermudah mereka dalam proses pembelajaran matematika. Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2006) kompetensi pemahaman adalah kemampuan untuk memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara fleksibel, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.
Adapun indikator dari kemampuan pemahaman konsep berdasarkan Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 adalah sebagai berikut:
1.         menyatakan ulang sebuah konsep, yaitu mampu menyebutkan definisi berdasarkan konsep esensial yang dimilik oleh suatu objek;
2.         mengklasifikasikan objek sesuai dengan konsepnya, yaitu mampu menganalisis suatu objek dan mengklasifikasikannya menurut sifat-sifat yang sesuai dengan konsepnya;
3.         memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep, yaitu mampu memberikan contoh lain baik untuk contoh maupun bukan contoh;
4.         menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi;
5.         mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup dari suatu konsep, yaitu mampu mengkaji mana yang merupakan syarat perlu dan mana yang merupakan sayarat cukup dari suatu konsep;
6.         menggunakan dan memanfaatkan serta memilih suatu prosedur atau operasi tertentu;
7.         mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan masalah.
Bloom (dalam Suherman, 2001) menempatkan pemahaman sebagai aspek kedua setelah pengetahuan dalam taksonomi Bloom tentang tingkatan kognitif, karena pemahaman terhadap suatu konsep matematika dapat dicapai apabila siswa memiliki pengetahuan terhadap konsep tersebut. Lebih jauh Bloom (dalam Suherman, 2001) menyebutkan bahwa “pemahaman adalah tingkatan paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan tentang sesuatu”.
Menurut Murizal dkk. (2012) “pemahaman merupakan terjemahan dari kata understanding yang artinya penyerapan arti suatu materi yang dipelajari”. Berdasarkan pengertian tersebut, maka siswa harus dapat memahami suatu objek secara mendalam yang dapat dilakukan dengan mengetahui: 1) objek itu sendiri, 2) hubungan dengan objek lain yang sejenis, 3) hubungannya dengan objek lain yang tidak sejenis, 4) hubungan dengan objek dalam teori lainnya.
Kosterman dan Khiat (dalam Rusmiati 2014) mengatakan bahwa “pemahaman matematika siswa dapat berubah seiring dengan perubahan konteks belajar mereka”. Hal itu berarti pemahaman siswa saat ia berada pada jenjang Sekolah Dasar akan berbeda dengan pemahaman saat ia berada pada jenjang SMP dan berbeda pula dengan pemahaman saat ia di jenjang SMA.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman konsep adalah kecakapan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran matematika yang ditunjukkan dengan: 1) menyatakan ulang sebuah konsep; 2) mengklasifikasikan objek sesuai konsep; 3) memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep; 4)  menggunakan model, diagram, dan simbol untuk mempresentasikan suatu konsep; 5) menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi; 6) mengaplikasikan konsep dalam pemecahan masalah;  dan 7) menjelaskan keterkaitan antar konsep.

C.      Teorema Pythagoras
Teorema Pythagoras merupakan salah satu topik matematika yang diajarkan di kelas VIII semester 2. Teorema ini pertama kali dibuktikan oleh seorang matematikawan kebangsaan Yunani yang bernama Pythagoras. Sehingga Pythagoras dianggap sebagai penemu teorema ini. Teorema ini membahas tentang hubungan antar sisi-sisi pada segitiga siku-siku, yaitu: jika segitiga ABC siku-siku maka berlaku jumlah kuadrat sisi siku-sikunya sama dengan kuadrat hypotenusanya (Mulyana, 2010). Untuk lebih memahami tentang teorema Pythagoras perhatikan gambar berikut:

Pada gambar 2.1 segitiga ABC adalah segitiga siku-siku di C dengan BC = a dan AC = b sebagai sisi siku-sikunya dan AB = c sebagai hypotenusanya. Sehingga bila dinyatakan dengan rumus diperoleh:        c2 = a2 + b2

D.      Pendekatan Matematika Realistik dalam Pembelajaran Teorema Pythagoras
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam pendekatan matematika realistik proses pembelajaran diawali dari permasalahan-permasalahan realistik yang yang dapat dipahami oleh siswa dan siswa dibimbing untuk dapat menemukan sendiri konsep matematika yang disampaikan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran Teorema Pytahgoras dengan pendekatan matematika realistik proses pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat membantu siswa untuk menemukan sendiri konsep Teorema Pythagoras tersebut.
Untuk memudahkan siswa dalam mempelajari Teorema Pythagoras, proses pembelajaran dapat diawali dengan memberikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa, misalnya: “Setiap pagi Budi berjalan kaki dari rumah ke sekolah. Dari rumah Budi berjalan sejauh 1 km ke arah Utara, kemudian dilanjutkan 2 km ke arah barat. Berapa jarak dari rumah Budi ke sekolah?”. Lalu guru memberikan penjelasan tentang permasalahan tersebut sampai siswa mengerti maksud dari permasalahan tersebut dan menyadari bahwa permasalahan tersebut berkaitan dengan teorema Pythagoras. Sehingga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat belajar siswa. Hal ini merupakan penerapan karakteristik RME yang kedua dan keenam, yaitu prinsip realitas dan bimbingan.
Selanjutnya siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 6 orang. Siswa yang pandai dikelompokkan dengan siswa yang pandai dan siswa yang kemampuan akademiknya biasa saja dikelompokkan dengan siswa yang kemampuan akademiknya biasa saja. Tujuannya agar siswa aktif dalam diskusi kelompoknya. Karena apabila siswa yang kemampuan akademiknya biasa saja disekelompokkan dengan siswa yang pandai mereka cenderung akan mengandalkan siswa yang pandai tersebut. Sehingga kegiatan pembelajaran yang aktif akan sulit terwujud. Hal ini sesuai dengan prinsip RME yang kelima, yaitu prinsip interaktivitas.
Untuk membimbing siswa menemukan konsep Teorema Pythagoras, setiap kelompok diberi Lebar Kerja Siswa (LKS). Dalam LKS tersebut disajikan gambar segitiga ABC, seperti berikut:

 
Siswa diminta untuk menggambar tiga buah persegi dengan panjang sisi sesuai dengan panjang sisi dari segitiga di atas pada tiga kertas berpetak berwarna yang berbeda, sehingga akan diperoleh luas daerah dari masing-masing persegi tersebut adalah a2, b2, dan c2. Lalu siswa disuruh untuk menggunting ketiga persegi tersebut dan menempelkannya berimpit pada sisi-sisi segitiga yang bersesuaian. Diharapkan bangun yang terbentuk adalah seperti di bawah ini. Hal ini sesuai, dengan karakteristik RME yang pertama dan ketiga, yaitu prinsip aktivitas dan tingkatan.
 


Langkah selanjutnya dengan mengacu pada prinsip RME yang keempat, yaitu prinsip keterkaitan, siswa diminta untuk menyimpulkan hubungan antara luas ketiga persegi tersebut. Jawaban yang diharapkan adalah luas persegi terbesar sama dengan jumlah luas kedua persegi lainnya atau c2 = a2 + b2. Namun, apabila mereka kesulitan untuk menyatakan hubungan dari ketiga luas segitiga tersebut, berdasarkan karakteristik RME yang keenam, yaitu prinsip bimbingan, guru dapat membantu siswa untuk menemukan hubungan luas daerah ketiga persegi tersebut. Untuk membantunya guru dapat menyuruh mereka untuk menghitung banyaknya persegi satuan pada masing-masing persegi tersebut dan menyimpulkan hubungan dari jumlah persegi satuan pada ketiga persegi tersebut. Hasilnya pasti jumlah persegi satuan pada persegi terbesar sama dengan jumlah persegi satuan pada dua persegi lainnya. Karena jumlah persegi satuan pada persegi tersebut sama dengan luas daerah persegi tersebut berarti diperoleh bahwa c2 = a2 + b2. Setelah siswa dapat menemukan teorema Pythagoras, soal-soal lainnya merupakan penerapan dari teorema Pythagoras. Diharapkan siswa dapat menggunakan teorema Pythagoras untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan.
Apabila siswa telah selesai mengerjakan soal-soal dalam LKS, guru meminta perwakilan dari dua  kelompok untuk mempresentasikan jawabannya di depan kelas secara bergantian dan kelompok lainnya memperhatikan serta memberi tanggapan. Hal ini merupakan penerapan karakteristik RME yang pertama dan kelima, yaitu prinsip aktivitas dan interaktivitas. Dalam menentukan kelompok yang maju untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas diusahakan kelompok yang paling bagus mengerjakannya dan kelompok yang banyak kekeliriuan dalam mengerjakannya. Sehingga mereka dapat membandingkan jawaban dari kedua kelompok tersebut dan mengetahui letak kesalahannya. Kelompok yang lebih banyak kekeliruan dalam mengerjakannya dipersilakan untuk maju terlebih dahulu. Setelah kelompok kedua selesai mempersentasikan hasil diskusi kelompoknya, guru membahas kembali jawaban LKS sebagai bentuk konfirmasi atas apa yang telah dikerjakan siswa dan mengajak siswa untuk menyimpulkan apa yang telah dipelajarinya.

Referensi
Departemen Pendidikan Nasional. (2006).  Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Mulyana, E. (2010). Kapita selekta matematika. FPMIPA: Bandung.
Murizal, A., dkk. (2012). Pemahaman konsep matematis dan model pembelajaran quantum teaching. Jurnal Pendidikan Matematika. 1(1), hlm. 19-23.
Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 tentang penilaian perkembangan anak didik SMP.
Rusmiati, L. (2014). Pengaruh model missouri mathematics project (MPP) berbasis kontekstual terhadap peningkatan kemampuan pemahaman dan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa SMP. (Tesis). Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Suherman, E., dkk. (2001). Strategi pembelajaran matematika kontemporer. Bandung: JICA.
Van den Heuvel-Panhuizen. (2002). Realistic mathematics education as work in progress. [Online]. Diakses dari http://www.fisme.science.uu.nl/ staff/marjah/documents/Marja_Work-in-progress.pdf.
Van den Heuvel-Panhuizen., & Drijvers, P. (2013). Realistic mathematics education. Dalam S. Lerman (Penyunting), Encyclopedia of mathematics education (hlm. xxx-xxx). New York: Springer.


Senin, 07 Desember 2015

Tugas 2

Pada Tugas 2 ini saya diinstruksikan untuk hunting foto bertema pendidikan dan kemudian mengedit foto-foto tersebut. Dalam Tugas 2 ini terdiri dari dua jenis foto, yaitu foto bangunan dan foto orang. Berikut adalah foto-foto yang saya gunakan untuk Tugas 2 ini.

Foto Bangunan
Untuk foto bangunan, saya mengambil salah satu gedung yang ada di Universitas Pendidikan Indonesia, yaitu Gedung M. Fakri Gaffar (Gedung FPBS). Berikut adalah foto bangunan sebelum dan sesudah diedit.







BEFORE








                 AFTER

 

 

 

 Foto pertama dan kedua tidak jauh berbeda, hanya ada beberapa bagian yang dihilangkan, seperti daun yang ada di pojok kiri foto dan orang yang sedang berjalan. Selain itu, saya juga mencoba mengatur kontras dan membersihkan noda-noda kecil pada foto, sehingga foto yang sudah diedit tampak lebih bersih.

Foto Orang
Yang menjadi objek dalam foto ini adalah siswi Sekolah Dasar yang sedang belajar di ruangan kelas. Berikut fotonya sebelum dan sesudah di edit. 

 



BEFORE












                        AFTER

 

 

Pada bagian ini foto sebelum dan sesudah diedit tidak jauh berbeda. Pada foto setelah diedit terlihat bahwa foto hanya difokuskan pada satu siswi, sedangkan siswi lainnya diburamkan.

Tugas 1 PPT

Sabtu, 02 Mei 2015

RESUME KELOMPOK 8 - KONSEP DASAR DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR DAN PENGAJARAN REMEDIAL



A.      Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar
1.      Definisi Diagnostik Kesulitan Belajar
Diagnosik adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala yang tampak. Sedangkan kesulitan belajar adalah rendahnya kepandaian yang dimiliki seseorang dibandingkan dengan kemampuan yang seharusnya dicapai orang itu pada umur tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnostik kesulitan belajar merupakan proses menentukan masalah atas ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang penyebabnya dan atau dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.
2.      Jenis-Jenis Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar dibagi menjadi tiga kategori besar, yaitu :
a.         Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa
b.        Permasalahan dalam hal kemampuan akademik
c.         Kesulitan lainnya, yang mencakup kesulitan dalam mengoordinasi gerakan anggota tubuh serta permasalahan belajar yang belum dicakup oleh kedua kategori di atas.
3.      Faktor Penyebab Munculnya Kesulitan Belajar
Faktor penyebab munculnya kesulitan belajar menurut Sukardi dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.         Faktor internal, yang meliputi: kesehatan dan problem menyesuaikan diri.
b.        Faktor eksternal, yang meliputi: lingkungan, cara guru mengajar yang tidak baik, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar.
4.      Ciri-Ciri Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Ciri-ciri umum siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dipahami melalui pengamatan fisik siswa, perkembangan mental, intelektual, sosial, ekonomi, kepribadian, dan proses-proses belajar yang yang dilakukannya di sekolah dan di rumah. Ciri-ciri itu harus dianalisis agar diperoleh kejelasan yang konkret tentang gejala dan sebab-sebab kesulitan belajar siswa di sekolah dan di rumah. Ketidaksanggupan belajar disebabkan kerusakan-kerusakan tertentu pada diri seseorang yang membuat seseorang itu lamban belajar. Menurut Cece Wijaya (2010),  kerusakan-kerusakan itu dikategorikan dalam empat hal, yaitu :
a.    Dyslexia, adalah kelemahan-kelemahan belajar di bidang menulis dan berbicara. Ciri-cirinya adalah sulit mengingat huruf, kata, tulisan, dan suara.
b.    Dyscalculia, adalah kesulitan mengenal angka dan pemahaman terhadap konsep dasar matematika.
c.    Attention Defisit Hyperactive Disorder (ADHD), adalah pemusatan perhatian terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Siswa lamban belajar dapat memusatkan perhatiannya hanya berkisar pada satu pokok bahasan saja.
d.   Spatial, motor, ad perceptual defisits, adalah kondisi lemah dalam menilai dirinya menurutukuran ruang dan waktu.
5.      Prosedur Diagnostik Kesulitan Belajar
Dalam melakukan diagnostik kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, ada tiga langkah umum yamg harus ditempuh oleh seorang guru, yaitu :
a.    Mendiagnostik kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu dengan cara mengidentifikasi kasus dan melokalisasikan jenis dan sifat kesulitan belajar terebut.
b.    Mengadakan estimasi (prognosis) tentang faktor-faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa.
c.    Mengadakan terapi, yaitu menemukan berbagai kemungkinan yang dapat dipergunakan dalam rangka penyembuhan atau mengalami kesulitan belajar yang dialamu oleh siswa tersebut.
Dalam mendiagnostik kesuliyan belajar siswa seorang guru harus senantiasa secara teratur memantau dan menerima informasi tentang kemajuan belajar siswa.
6.      Mendiagnostik Kesulitan Belajar secara Formal
Diagnostik terhadap kesulitan belajar dilakukan dengan metode uji standar yang membandingkan tingkatan kemampuan seorang anak terhadap anak lainnya yang dianggap normal. Hasil uji tidak hanya tergantung pada kemampuan aktual anak, tetapi juga reliabilitas pengujian itu serta kemampuan sang anak untuk memerhatikan dan memahami pertanyaannya.
Cara mendiagnostik setiap tipe LD (Learning Disorder/Gangguan belajar)  berbeda-beda. Untuk mendiagnostik kesulitan berbicara dan berbahasa, ahli terapi wicara menguji cara pelafalan bunyi bahasa anak-anak, kosakata, dan pengetahuan tata bahasa serta membandingkannya dengan kemampuan anak sebaya mereka yang normal. Untuk mendiagnostik gangguan kemampuan atau perkembangan akademis yang mencakup membaca, menulis, dan matematika, maka pengujiannya dilakukan dengan metode uji standar.
7.      Evaluasi Diagnostik Kesulitan Belajar 
Evaluasi diagnostik kesulitan belajar merupakan evaluasi yang memiliki penekanan kepada penyembuhan kesulitan belajar siswa yang tidak terpecahkan oleh formula perbaikan yang biasanya ditawarkan dalam bentuk tes formatif. Evaluasi diagnostik kesulitan belajar pada umumnya dilakukan pada awal pengajaran, awal tahun ajaran atau semester. Tujuan adalah untuk menentukan tingkat pengetahuan awal siswa. Ada dua hal yang penting dalam melakukan evaluasi diagnostik kesulitan belajar yaitu (1) penilaian diagnostik pada umumnya jarang digunakan oleh guru untuk menentukan grade dan (2) semakin baik evaluasi diagnostik yang dilakukan, semakin jelas tujuan belajar yang dapat ditetapkan.

B.       Konsep Dasar Pengajaran Remedial
1.         Definisi Pengajaran Remedial
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata remedial berarti (1) Remedial yang berhubungan dengan perbaikan, pengajaran ulang bagi murid yang hasil belajarnya jelek, (2) Remedial berarti bersifat menyembuhkan (yang disembuhkan adalah beberapa hambatan / gangguan kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar sehingga dapat timbal balik dalam arti perbaikan belajar atau perbaikan pribadi). Sedangkan teaching yang berarti “pengajaran” berarti proses perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan Perihal mengajar, segala sesuatu mengenai mengajar.
2.         Tujuan dan Fungsi Pengajaran Remedial
a.    Tujuan Pengajaran Remedial
1)        Supaya siswa dapat memahami dirinya, khususnya prestasi belajarnya, dapat mengenal kelemahan dan kekuatannya dalam mempelajari suatu bidang studi.
2)        Supaya siswa dapat memperbaiki cara belajarnya ke arah yang lebih baik.
3)        Supaya siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.
4)        Supaya siswa dapat mengembangkan sifat dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.
5)        Supaya siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya, setelah ia mampu mengatasi hambatan yang menjadi kesulitan belajarnya, dan mengembangkan sikap serta kebiasaan yang baru dalam belajar.
b.    Fungsi Pengajaran Remedial
1)        Fungsi Korektif, berarti bahwa melalui pengajaran remedial dapat dilakukan  perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran.
2)        Fungsi Pemahaman, berarti bahwa dengan remedial memungkinkan guru, siswa atau pihak-pihak lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan komprehesif mengenai pribadi siswa.
3)        Fungsi Penyesuaian, berarti bahwa pengajaran ramedial dapat membentuk siswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan proses belajarnya.
4)        Fungsi Pengayaan, berarti bahwa melalui pengajaran remedial, siswa akan dapat memperkaya proses pembelajaran.
5)        Fungsi Akselerasi, berarti bahwa melalui pengajaran remedial akan dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efesien.
6)        Fungsi Terapeutik, berarti bahwa melalui pengajaran remedial secara langsung atau tidak akan dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukan adanya penyimpangan.
3.         Metode dalam Pengajaran Remedial
Metode yang dapat digunakan dalam pengajaran remidial, yaitu :
a.    Tanya Jawab, metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitan siswa.
b.    Diskusi, metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar-individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh sekelompok siswa.
c.    Tugas, metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal kasus dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar.
d.   Kerja Kelompok, metode ini hampir bersamaan dengan pemberian tugas dan diskusi.
e.    Tutor adalah siswa sebaya yang ditugaskan untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru-siswa.
f.     Pengajaran Individual adalah interaksi antara guru-siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dengan metode ini bersifat terapeutik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa.


4.         Strategi dan Teknik dalam Pendekatan Pengajaran Remedial
Menurut  Izhar Hasis  yang disimpulkan dari  Ross and  Stanley dan dari  Dinkmeyer and Caldweel dalam bukunya Developmental Counseling, strategi dan teknik pendekatan pengajaran remidial meliputi:
a.         Strategi dan Teknik Pendekatan Remedial Teaching yang Bersifat Kuratif
Tindakan Remedial Teaching dikatakan bersifat kuratif kalau  dilakukan setelah selesainya program proses belajar mengajar utama diselenggarakan. Teknik pendekatan yang dipakai dalam hal  ini  adalah sebagai berikut :
1)        Pengulangan (repetation)
Pengulangan dapat  terjadi pada beberapa tingkatan, yaitu:  pada  setiap akhir jam pertemuan, setiap akhir unit pelajaran tertentu, dan pada setiap satuan program studi.
2)        Pengayaan (enrichment) dan Pengukuhan (reinforcement)
Layanan pengayaan dan pengukuhan  ditujukan pada siswa yang mempunyai kelemahan  ringan. Teknik pelaksanaannya dapat dengan memberikan tugas atau soal pekerjaan rumah.
3)        Percepatan (acceleration)
Percepatan diberiakan kepada kasus  berbakat tetapi menunjukkan kesulitan psikososial  atau  ego  emosional.
b.        Strategi dan Teknik pendekatan Remedial Teaching yang Bersifat Preventif
Strategi dan teknik pendekatan preventif diberikan kepada siswa tertentu berdasarkan data atau informasi yang ada dapat diantisipasi atau setidaknya patut diduga akan mengalami kesulitan dalam  menyelesaikan tugas-tugas belajar. Teknik pendekatan yang dipakai adalah layanan pengajaran  kelompok yang diorganisasikan secara homogen (homogenius  grouping), layanan pengajaran secara individual dan layanan pengajaran kelompok dengan dilengkapi kelas khusus remedial dan pengayaan.
c.         Strategi dan Teknik Pendekatan Remedial Teaching Bersifat Pengembangan
Pendekatan pengembangan merupakan tindak lanjut dari during teaching diagnostic atau upaya diagnostik yang dilakukan guru selama berlangsungnya proses belajar mengajar (PBM). Agar strategi pendekatan  ini dapat dioperasikan secara teknis yang sistematis, maka diperlukan adanya pengorganisasian proses belajar mengajar yang sistematis seperti dalam bentuk pengajaran berprogram.
5.         Langkah-Langkah Melaksanakan Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial merupakan salah satu bentuk bimbingan belajar dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a.         Meneliti kasus dengan permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya.
b.        Menentukan tindakan yang harus dilakukan.
1)   Jika kasusnya ringan, tindakan yang ditentukan adalah memberikan pengajaran remedial kepada siswa tersebut.
2)   Jika kasusnya cukup dan berat, maka sebelum diberikan pengajaran remedial, siswa harus diberikan layanan konseling terlebih dahulu.
c.         Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling.
d.        Langkah pelaksanaan pengajaran remedial.
e.         Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar siswa dengan alat tes sumatif.
f.         Melakukan re-evaluasi dan re-diagnostik.
Terdapat tiga kemungkinan tafsiran hasil, yaitu sebagai berikut :
1.        Kasus menunjukkan kenaikan prestasi yang dihasilkan sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Maka selanjutnya diteruskan ke program yang berikutnya.
2.        Kasus menunjukkan kenaikan prestasi, namun belum memenuhi kriteria yang diharapkan. Maka kasus diserahkan kepada pembimbing untuk diadakan pengayaan.
3.        Kasus belum menunjukkan perubahan yang berarti dalam hal prestasi. Maka perlu didiagnostik lagi untuk mengetahui letak kelemahan pengajaran remedial untuk selanjutnya diadakan ulangan dengan alternatif yang sama.
6.         Perbandingan Prosedur Pengajaran Biasa dan Remedial
a.         Kegiatan pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dan semua siswa ikut berpartisipasi. Pengajaran perbaikan diadakan setelah diketahui kesulitan belajar, kemudian diadakan pelayanan khusus.
b.        Tujuan pengajaran biasa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan sama untuk semua siswa. Pengajaran perbaikan tujuannnya disesuaikan dengan kesulitan belajar siswa walaupun tujuan akhirnya sama.
c.         Metode dalam pengajaran biasa sama buat semua siswa, sedangkan metode dalam pengajaran perbaikan berdiferensial (sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan.
d.        Pengajaran biasa dilakukan oleh guru, sedangkan pengajaran perbaikan oleh team (kerjasama).
e.         Alat pengajaran perbaikan lebih bervariasi, yaitu dengan penggunaan tes diagnostik, sosiometri, dsb.
f.         Pengajaran perbaikan lebih diferensial dengan pendekatan individual.
g.        Pengajaran perbaikan evaluasinya disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.
7.         Peran Aparat Sekolah, Orang Tua, dan Masyarakat dalam Program Pendidikan dan Pengajaran Remedial
Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran remedial itu merupakan tanggung jawab bersama antara kepala sekolah, guru, orang tua, pemerhati pendidikan, tata usaha, dan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang terkait. Berikut adalah peranan-perananya :
a.         Kepala Sekolah
1)   Harus menguasai sepenuhnya program pendidikan dan pengajaran remedial di sekolah.
2)   Menyediakan sumber belajar yang lengkap dan dapat digunakan setiap waktu sesuai dengan kebutuhan.
3)   Memiliki jalinan kerja sama yang baik dengan orang tua siswa di rumah untuk mengembangkan pendidikan masa depan anak-anaknya.
4)   Mendirikan dan mengembangkan Lembaga Pusat Bimbingan dan Penyuluhan yang berfungsi menangani kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari pengetahuan.
5)   Mampu mengangkat seorang ekspert yang bertugas sebagai guru pendidikan remedial
b.        Orang Tua Siswa
1)   Menerima dengan baik kunjungan sekolah di rumah (home visit).
2)   Bersikap tanggap terhadap pembicaraan kasus putra-putranya dan menunjukkan sikap tidak emosional.
3)   Senang menghadiri undangan sekolah untuk membicarakan kasus putra-putranya.
4)   Dapat memberikan data objektif selengkap mungkin tentang kelemahan-kelemahan putranya dalam pelajaran.
5)   Mampu membantu memprediksi dan memberi latihan sepenuhnya terhadap kasus yang dihadapinya.
c.         Staf Tata Usaha Sekolah, berperan mengaministrasi data-data kasus mulai dari latar belakang, asal-usul dan sebab-sebab kesulitan belajar siswa, cara-cara memprediksi penyembuhannya, sampai dengan cara-cara penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran remedial.
d.        Penilik Sekolah
1)   Melakukan kunjungan rutin ke sekolah sekurang-kurangnya dua minggu sekali, mamantau dan mengawasi jalannya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran remedial yang telah dirancang sebelumnya.
2)   Menyelenggarakan diskusi periodik dengan kepala sekolah dan guru-guru tentang upaya pemecahan kesulitan belajar siswa.
3)   Menyelenggarakan upaya kerja sama yang baik dengan lembaga-lembaga terkait.
e.         Para Pemerhati Pendidikan, berperan untuk memberikan pendapat, sikap, dan aspirasinya dalam upaya penanganan kasus atau dalam hal ini siswa lamban belajar.
f.         Lembaga-Lembaga Kemasyarakatan Terkait, berperan membantu sekolah dalam mengumpulkan data objektif tentang latar belakang dan sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa serta membantu dalam penyelesaiannya.
8.         Evaluasi Pengajaran Remedial
Tujuan paling utama dari evaluasi ini adalah diharapkan 75% taraf pengusaan (level of mastery). Bila ternyata belum berhasil maka dilakukan diagnostik dan memperoleh pengajaran remedial kembali. Evaluasi perlu dilakukan secara kontinu untuk menentukan perkembangan dan prosedur yang hendak dilaksanakan dimasa mendatang. Evaluasi remidi memiliki arti penting bagi orang-orang terdekat siswa. Oleh karena itu, perlu diberikan informasi kepada siswa dan orangtua mengenai perkembangan belajarnya.