Rabu, 22 April 2015

RESUME KELOMPOK 7 - PEMBELAJARAN BERBASIS BIMBINGAN



A.      Konsep Dasar Pembelajaran Berbasis Bimbingan
1.         Konsep Bimbingan
Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan dalam upaya membantu individu mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Yang dimaksud dengan perkembangan optimal adalah suatu kondisi di mana individu dapat mengenal dan memahami diri, berani menerima kenyataan diri secara subyektif, mengarahkan diri sesuai dengan kemampuannya, dan mengambil keputusan atas tanggung jawab sendiri.
2.         Konsep Pembelajaran dan Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan, dan sebagainya. Pembelajaran adalah suatu keadaan yang dirancang agar siswa belajar. Sedangkan yang dimaksud dengan pembelajaran yang berbasis bimbingan adalah  pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif saja, akan tetapi dapat menghasilkan sebuah output berupa lahirnya perubahan perilaku siswa yang positif dan normatif. Menurut Budiman (dalam Najjah, 2015) pembelajaran berbasis bimbingan harus berlandaskan pada prinsip-prinsip bimbingan, yaitu:
a.         Didasarkan pada Needs assesment (sesuai dengan kebutuhan).
b.        Dikembangkan dalam suasana membantu (helping relationship).
c.         Bersifat memfasilitasi.
d.        Berorientasi pada: 1) learning to be (belajar menjadi), 2) learning to learn (belajar untuk belajar), 3) learning to work (belajar untuk bekerja dan berkarir), 4) learning ti live together (belajar untuk hidup bersama)
e.         Tujuan utama perkembangan potensi secara optimal.

B.       Ciri-ciri Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Menurut Kartadinata dan Dantes (dalam Mariyana, 2008, hlm. 2), ciri-ciri pembelajaran berbasis bimbingan adalah sebagai berikut:
1.         Diperuntukkan  bagi semua siswa dengan berorientasi pada kebutuhan individu siswa.
2.         Memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan sedang berkembang.
3.         Mengakui siswa sebagai individu yang bermartabat dan berkemampuan.
4.         Terarah ke perkembangan segenap aspek perkembangan anak secara menyeluruh dan optimal.
5.         Disertai dengan berbagai sikap guru yang positif dan mendukung aktualisasi berbagai minat, potensi, dan kapabilitas siswa sesuai dengan norma-norma kehidupan yang dianut.

C.      Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Menurut Budiman (2008) prinsip-prinsip pembelajaran berbasis bimbingan di antaranya:
a.         Didasarkan pada Needs assesment (sesuai dengan kebutuhan).
b.         Dikembangkan dalam suasana membantu (helping relationship).
c.         Empati
d.        Keterbukaan
e.         Kehangatan psikologis
f.          realistis
g.         Bersifat memfasilitasi.
h.         Berorientasi pada: 1) learning to be (belajar menjadi), 2) learning to learn (belajar untuk belajar), 3) learning to work (belajar untuk bekerja dan berkarir), 4) learning ti live together (belajar untuk hidup bersama)
i.           Tujuan utama perkembangan potensi secara optimal.

D.      Model-model Pembelajaran yang Berorientasi pada Pengembangan Individu
Menurut Malau (2006, hlm.3) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. model-model pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan individu yang dapat dipilih guru antara lain:
1.         Model Pemrosesan Informasi
Model pembelajaran ini berdasarkan pada teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki dirinya. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar.
2.         Model Personal
Model pembelajaran ini berdasarkan pada teori humanistik, yaitu berorientasi pada pengembangan individu. Fokus utama dalam model ini adalah emosional siswa untuk mengembangkan hubungan produktif dengan lingkungan. Sehingga guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar siswa merasa bebas dalam mengembangkan dirinya baik secara emosional maupun intelektual.
3.         Model Interaksi Sosial
Model pembelajaran ini berdasarkan pada teori belajar Gestalt (field theory) dan menitikberatkan pada hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat (learning ti life together).
4.         Model Modifikasi Tingkah Laku
Model pembelajaran ini berdasarkan pada teori belajar behaviouristik yaitu bertujuan mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement). Model ini, lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan yang tidak dapat diamati. Dalam hal ini, peran guru adalah selalu memperhatikan terhadap tingkah laku belajar siswa.
5.         Model Pembelajaran Terpadu Berbasis Budaya
Model pembelajaran ini dikembangkan untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap budaya lokal dan dikembangkan berdasarkan pengalaman awal budaya siswa. Komponen desainnya terdiri atas tema budaya lokal, alat media, dan sumber yang beragam dan kontekstual. Komponen penilaiannya lebih menekankan pada penilaian proses dan hasil.
6.         Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Model pembelajaran ini berdasarkan pada paham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Menurut Slavi (dalam Riadi, 2012) tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
7.         Model Pembelajaran Kontekstual
Menurut Trianto (dalam Riadi, 2013) pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa dalam konteks bermakan yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individu siswa dan peranan guru.
8.         Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Menurut Duch (dalm Nurfianti, 2011) Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.

DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, R. (2014). Dampak Penerapan Pembelajaran Berbasis Kerja Terhadap Hasil Belajar Praktek Kerja Kayu Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Prosiding Konvensi Nasional Asosiasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (APTEKINDO) ke 7 FPTK Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Alexon dan Sukmadinata. (2010). Pengembangan Model Pembelajaran Terpadu Berbasis Budaya untuk Meningkatkan Apresiasi Siswa terhadap Budaya Lokal. Cakrawala Pendidikan, XXIX (2), hlm. 201
Arif, F. (2012). Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan Konseling. [Online]. Diakses dari https://fingeridea.wordpress.com/2012/05/23/model-pembelajaran-berbasis-bimbingan-dan-konseling/
Asih dkk. (2010). Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati Dan Kematangan Emosi. Jurnal
Aulia, R.A. (2015). Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. [Online]. Diakses dari kieeaulia47.blogspot.com/
Budiman, N. (2009). Strategi Pembelajaran Berbasis Bimbingan. Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Bandung
Fatirul, A.N. (2008). Cooperative Learning. [Online]. Diakses dari https://trimanjuniarso.files.wordpress.com/2008/02/c00perative-learning.pdf
Kania, G. (2014). Program Bimbingan untuk meningkatkan Motivasi Belajar pada Siswa yang Berlatar Belakang Keluarga Disfungsional. (Skripsi). Bandung : UPI. Tidak diterbitkan
Mariyana, R. (2008). Kompetensi Guru dalam Pembelajran Berbasis Bimbingan di Taman Kanak-kanak (studi Deskriptif terhadap Guru TK di Kota Bandung). [Online]. Diakses dari http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/197803082001122RITA_MARIYANA/JURNAL_kompetensi_guru_dalam_PBB.pdf
Najjah, S. (2015). Pembelajaran Berbasis Bimbingan (Mengkaji Model-Model Pembelajaran yang Lebih Berorientasi Pengembangan Individu). [Online]. Diakses http://suroyyalailatunnajjah.blogspot.com/2015/04/pembelajaran-berbasis-bimbingan.html
Nurfianti. (2010). Penerapan Model Pembelajaran Based Learning pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. (Skripsi). UPI. Tidak diterbitkan.
Perdana, A. (2013). Pengertian Belajar, Mengajar, Pembelajar dan Pembelajaran. [Online]. Diakses dari http://www.andreanperdana.com/2013/03/pengertian-belajar-mengajar-pembelajar.html
Riadi, M. (2012). Pengertian Pembelajaran Kooperatif. [Online]. Diakses dari http://www.kajianpustaka.com/2012/10/pembelajaran-kooperatif.html
Riadi, M. (2013). Pembelajaran Kontekstual. [Online]. Diakses dari http://www.kajianpustaka.com/2013/08/pembelajaran-kontekstual.html
Rusman. (Tanpa Tahun). Pendekatan dan Model Pembelajaran. [Online]. Diakses darihttp://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196209061986011AHMAD_MULYADIPRANA/PDF/Model_Pengembangan_Pembelajaran.pdf
Sugiyatno. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. [Online]. Diakses dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/sugiyatno-mpd/materi-kuliah-dasar-dasar-bk.pdf
Suherman, dkk. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA-UPI
Triasari, A. (2014). Pengaruh Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific terhadap Peningkatan Kemampuan Abstraksi Siswa SMA. (Skripsi). Bandung : UPI. Tidak diterbitkan
Wardhani. N. (2007). Keterkaitan Konsep Konseling Dengan Aspek-Aspek Psikologis.
Waziroh dkk. (2012). Analisis Kebutuhan Pembelajaran  Dalam Perancangan Pembelajaran yang Mendidik Di SD/MI. [artikel]. Tidak diterbitkan.

Selasa, 14 April 2015

RESUME KELOMPOK 6 - MASALAH-MASALAH SISWA DI SEKOLAH SERTA PENDEKATAN-PENDEKATAN UMUM DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING (STRATEGI BIMBINGAN DAN KONSELING)



A.      Masalah-Masalah Siswa di Sekolah
Menurut Tohirin (2007: 111) siswa di sekolah  akan mengalami masalah-masalah yang berkenaan dengan:
       1.  Perkembangan siswa,
       2. Perbedaan siswa dalam hal: kecerdasan, kecakapan, hasil belajar, bakat, sikap, kebiasaan, pengetahuan, kepribadian, cita-cita, kebutuhan, minat, pola-pola dan tempo perkembangan, ciri-ciri jasmaniah, dan latar belakang lingkungan,
       3. Kebutuhan siswa dalam hal: memperoleh kasih sayang, memperoleh hargadiri, memperoleh penghargaan yang sama, ingin dikenal, memperoleh prestasi dan posisi, untuk dibutuhkan orang lain, merasa bagian dari kelompok, rasa aman dan perlindungan diri, dan untuk memperoleh kemerdekaan diri,
        4. Penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, 
     5.  Masalah belajar.
M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004) mengklasifikasikan masalah siswa sebagai berikut: 1) Masalah yang berhubungan problematika siswa dengan Tuhnnya, 2) masalah siswa dengan dirinya sendiri, 3) masalah siswa dengan lingkungan keluarga, 4) masalah siswa dengan lingkungan kerja, dan 5) masalah siswa dengan lingkungan sosial.
B.       Pendekatan-Pendekatan Umum dalam Bimbingan dan Konseling
Pendekatan dalam bimbingan dibagi menjadi 4 pendekatan, yaitu: (dalam Landasan Bimbingan dan Konseling: 81-82)
1.         Pendekatan Krisis
Pendekatan krisis adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada siswa yang mengalami krisis atau masalah. Bimbingan bertujuan untuk mengatasi krisis atau masalah-masalah yang dialami siswa. Dalam pendekatan krisis ini, guru BK menunggu siswa yang datang, selanjutnya mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan siswa. Pengalaman-pengalaman pada masa lima atau enam tahun pertama dari kehidupan siswa dipandang sebagai akar dari krisis siswa yang bersangkutan pada masa kini.
2.         Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial adalah upaya bimbinngan yang diarahkan kepada siswa yang mengalami kesulitan. Tujuan bimbingan adalah untuk memperbaiki kesulitan-kesulitan yang dialami siswa. Perilaku siswa dipengaruhi oleh suasana lingkungan Oleh sebab itu, untuk memperbaiki perilaku siswa perlu ditata lingkungan yang mendukung untuk perbaikan perilaku tersebut.
3.         Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif adalah upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum siswa dan mencoba jangan sampai terjadi masalah tersebut pada siswa. Guru BK berupaya untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut pada siswa .
4.         Pendekatan Perkembangan
Menurut Muro dan Kottman (1995, hlm. 5) “bimbingan dan konseling yang berkembang pada saat ini adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Visi bimbingan dan konseling adalah edukatif , pengembangan, dan outreach.

C.      Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
Menurut Nurihsan (2007) strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegaiatan, dan sarana penunjang kegiatan. Strategi bimbingan dan konseling dapat berupa konseling siswaal, konsultasi, konseling kelompok, bimbingan kelompok, dan pengajaran remedial, bimbingan klasikal, dan strategi terintegrasi.
1.         Konseling Siswaal
Konseling siswaal adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara guru BK dan siswa. Dalam konseling diharapkan siswa dapat mengubah sikap, keputusan diri sendiri sehingga ia dapat lebih baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan memberikan kesejahteraan pada diri sendiri dan masyarakat di sekitarnya. Konseling bertujuan membantu siswa untuk mengadakan interpretsai fakta-fakta, mendalami arti nilai hidup pribadi baik sekarang maupun mendatang.
Menurut Nurihsan (2007: 11) teknik yang digunakan dalam konseling siswaal yaitu: a) Menghampiri siswa; b) empati; c) refleksi; d) eksplorasi; e) menangkap pesan utama; f) bertanya untuk membuka percakapan; g) bertanya tertutup; h) dorongan minimal; i) interpretasi; j) mengarahkan; k) menyimpulkan sementara; l) memimpin; m) memfokus; n) konfrontasi; o) menjernihkan; p) memudahkan; q) diam; r) mengambil inisiatif; s) memberi nasihat; t) memberi informasi; u) merencanakan; dan v) menyimpulkan.
Secara umum Nurihsan (2007) membagi proses konseling siswaal ke dalam tiga tahapan yaitu:
a.         Tahap Awal Konseling
Tahap awal ini terjadi sejak siswa bertemu dengan guru BK hingga berjalan proses konseling dan menemukan definisi masalah siswa. Adapun yang dilakukan guru BK dalam proses konseling tahap awal adalah sebagai berikut:
1)   Membangun hubungan konseling dengan melibatkan siswa yang mengalami masalah yaitu dengan cara melibatkan siswa dan berdiskusi dengan siswa. Hubungan tersebut dinamakan a working relationship. Keberhasilan tahap ini ditentukan oleh keterbukaan guru BK dan keterbukaan siswa.
2)   Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan siswa konseling telah terjalin dengan baik dan siswa sudah melibatkan diri, berarti kerjasama antara guru BK dengan siswa bisa dilanjutkan dengan mengangkat isu, kepedulian, dan masalah yang dialami siswa. Tugas dari guru BK adalah membantu mengembangkan potensi siswa sehingga siswa dengan kemampuannya dapat menyelesaikan masalahnya.
3)   Membuat penjajakan alternatif bantuan untuk mengatasi masalah. Guru BK berusaha menjajaki kemungkinan rancangan bnatuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi siswa dan lingkungannya yang tepat untuk mengatasi masalah siswanya.
4)   Menegosiasikan kontrak, ini mengatur kegiatan konseling termasuk kegiatan guru BK dan siswa.
b.        Tahap Pertengehan Konseling (Tahap Kerja)
Tahap pertengahan lebih memfokuskan pada penjelajahan masalah yang dialami siswa dan bantuan apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian kembali apa-apa yang telah dijelajahi tentang masalah siswa. Cavanagh (Nurihsan, 2007: 14) menyebut tahap ini sebagai tahap action. Adapun tujuan pada tahap pertengahan ini adalah sebagai berikut: 1) Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah serta kepedulian siswa dan lingkungannya dalam mengatasi masalah tersebut, 2) Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara, dan 3) Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak.
c.         Tahap Akhir Konseling
Cavanagh (Nurihsan, 2007: 15) menyebut tahap ini dengan istilah termination. Pada tahap ini, konseling ditandai oleh beberapa hal berikut ini:
1)   Menurunnya kecemasan siswa. Hal ini diketahui setelah guru BK menanyakan keadaan kecemasannya.
2)   Adanya perubahan perilaku yang jelas ke arah yang lebih positif, sehat, dan dinamik.
3)   Adanya tujuan hidup yang jelas di masa yang akan datang dengan program yang jelas pula.
4)   Terjadinya perubahan sikap positif terhadap masalah yang dialaminya, dapat mengoreksi diri, dan meniadakan sikap yang suka menyalahkan dunia luar, seperti orang tua, teman, dan keadaan yang tidak menguntungkan.
Tujuan tahap akhir ini adalah memutuskan perubahan sikap dan perilaku yang tidak bermasalah, terjadinya transfer of learning pada diri siswa, melaksanakan perubahan perilaku siswa agar mampu mengatasi masalahnya, dan mengakhiri hubungan konseling.
2.         Konsultasi
Dalam program bimbingan, konsultasi dipandang sebagai suatu proses menyediakan bantuan teknis untuk guru, orang tua, administrator, dan guru BK lainnya dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang membatasi efektivitas siswa atau sekolah.
Menurut Nurihsan (2007) ada delapan tujuan konsultasi, yaitu: a) Mengembangkan dan menyempurnakan lingkungan belajar bagi siswa, orang tua, dan administrator sekolah, b) Menyempurnakan komunikasi dengan mengembangkan informasi diantara orang yang penting, c) Mengajak bersama pribadi yang memiliki peranan dan fungsi yang bermacam-macam untuk menyempurnakan lingkungan belajar, d) Memperluas layanan dari para ahli, e) Memperluas layanan pendidikan dari guru dan administrator, f) Membantu orang lain bagaimana belajar tentang perilaku, g) Menciptakan suatu lingkungan yang berisi semua komponen lingukngan belajar yang baik, dan h) Menggerakkan organisasi yang mandiri.
Sedangkan, langkah proses konsultasi menurut Nurihsan (2007) terdiri dari: a) Menumbuhkan hubungan berdasarkan  komunikasi dan perhatian pada siswa, b) Menentukan diagnosis atau sebuah hipotesis kerja sebagai rencana kegiatan, c) Mengembangkan motivasi untuk melaksanakan kegiatan, d) Melakukan pemecahan masalah, dan e) Melakukan alternatif lain apabila masalah belum terpecahkan.
3.         Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan pada diri siswa. Isi kegiatan bimbingan kelompok terdiri atas penyampaian informasi yang berkenaan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang tidak disajikan dalam bentuk pelajaran.
Penyelenggaraan bimbingan kelompok, menurut Nurihsan (2007), memerlukan persiapan dan praktik pelaksanaan kegiatan yang memadai, dari langkah awal sampai dengan evaluasi dan tindak lanjutnya.
a.    Langkah Awal
Langkah awal diselenggarakan dalam rangka pembentukan kelompok sampai dengan mengumpulkan para peserta yang siap melaksanakn kegiatan kelompok. Langkah awal ini dimulai dengan penjelasan tentang adanya layanan bimbingan kelompok bagi para siswa, pengertian, tujuan, dan kegunaan bimbingan kelompok. Lalu dilanjutkan dengan merencanakan waktu dan tempat menyelenggarakan kegiatan bimbingan kelompok.
b.    Perencanaan Kegiatan
Perencanaan kegiatan bimbingan kelompok meliputi penetapan: materi layanan, tujuan yang ingin dicapai, sasaran kegiatan, bahan atau sumebr bahan untuk bimbingan kelompok, rencana penilaian, dan waktu dan tempat.
c.    Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan yang telah direncanakan itu selanjutnya dilaksanakan melalui kegiatan sebagai berikut.
1)        Persiapan menyeluruh yang meliputi persiapan fisik (tempat dan kelengkapannya), persiapan bahan, persiapan keterampilan, dan persiapan administrasi.
2)        Pelaksanaan tahap-tahap kegiatan.
Tahap pertama: pembentukan, temanya pengenalan, pelibatan dan pemasukan diri; tahap kedua: peralihan; dan tahap ketiga: kegiatan.
d.   Evaluasi Kegiatan
Penilaian terhadap bimbingan kelompok berorientasi pada perkembangan yaitu mengenali kemajuan atau perkemabangan positif yang terjadi pada diri peserta. Lebih jauh, penilaian terhadap bimbingan kelompok lebih bersifat penilaian “dalam proses”, yang dapat dilakukan melalui:
1)   Mengamati partisipasi dan aktivitas peserta selama kegiatan berlangsung;
2)   Mengungkapkan pemahaman peserta atas materi yang dibahas;
3)   Mengungkapkan kegunaan bimbingan kelompok bagi mereka dan perolehan mereka sebagai hasil dari keikutsertaan mereka;
4)   Mengungkapkan minat dan sikap mereka tentang kemungkinan kegiatan lanjutan; dan
5)   Mengungkapkan kelancaran proses dab suasana penyelenggaraan bimbingan kelompok.
e.    Analisis dan Tindak Lanjut
Menurut Nurihsan (2007: 21) hasil penilain kegiatan bimbingan kelompok perlu dianalisis untuk mengetahui lebih lanjut seluk beluk kemajuan para peserta dan seluk beluk penyelenggaraan bimbingan kelompok.
4.         Konseling Kelompok
Konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada siswa dalam rangka memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Selain bersifat pencegahan, konseling kelompok dapat pula bersifat penyembuhan.
Konseling kelompok adalah suatu upaya bantuan kepada siswa dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya.
Siswa dalam konseling kelompok dapat menggunakan interaksi dalam kelompok untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan-tujuan tertentu, untuk mempelajari atau menghilangkan sikap-sikap dan perilaku tertentu. Prosedur konseling kelompok sama dengan bimbingan kelompok, yaitu terdiri dari:
a)    tahap pembentukan, dengan temanya pengenalan, perlibatan, dan pemasukan diri;
b)   tahap peralihan, dengan temanya pembangunan jembatan antara tahap pertama dan tahap ketiga;
c)    tahap kegiatan, dengan temanya kegiatan pencapaian tujuan;
d)   tahap pengakhiran, dengan temanya penilaian dan tindak lanjut.
5.         Pengajaran Remedial
Menurut Makmun (dalam Nurihsan, 2007: 23) pengajaran remedial dapat didefinisikan sebagai upaya guru untuk menciptakan suatu situasi yang memungkinkan siswa atau kelompok siswa tertentu lebih mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan, dengan melalui suatu proses interaksi yang berencana, terorganisasi, terarah, terkoordinasi, terkontrol dengan lebih memperhatikan taraf kesesuaiannya terhadap keragaman kondisi objektif siswa dan atau kelompok siswa yang bersangkutan serta daya dukung sarana dan lingkungannya. Secara sistematika prosedur remedial tersebut, menurut Nurihsan (2007) dapat digambarkan sebagai berikut: a) Diagnostik kesulitan belajar-mengajar, b) Rekomendasi/referral, c) Penelaahan kembali kasus, d) Pilihan alternatif tindakan, e) Layanan konseling, f) Pelaksanaan pengajaran remedial, g) Pengukuran kembali hasil belajar-mengajar, h) Reevalusai/rediagnostik, i) Tugas tambahan, dan j) Hasil yang diharapkan.
6.         Bimbingan Klasikal
Menurut Sudrajat, bimbingan klasikal termasuk ke dalam strategi untuk layanan dasar bimbingan. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada awal pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya. Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah, seperti : kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, dan sebagainya. Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung.